Korban Masih Dicari, Diduga Terseret Arus
Sabtu pagi (5/7) sekitar pukul 10.00 Wita, menjadi hari nahas bagi Rezal Faroman Syarief, seorang taruna Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang yang tengah menyelesaikan studi pelayarannya di KM Prima Samudra, sejak Desember 2007 lalu.
Mahasiswa yang melaksanakan praktik juru mudi itu terjatuh saat mengecat lambung kapal yang bersandar di Pelabuhan Malundung. Sampai berita ini diturunkan pukul 18.00 Wita, keberadaan korban belum diketahui.
Warna, saksi mata yang melihat peristiwa nahas itu menuturkan, sejak Jumat (4/7) korban bersama mandornya melakukan pengecatan bodi kapal. Kemarin merupakan hari kedua kerja dan yang dicat adalah lambung kanan. Namun sayang, saat bekerja dengan ketinggian sekitar 3 meter dari permukaan air laut itu, korban tidak menggunakan alat pengaman.
Meski demikian, sambung dia, pekerjaan pun mereka lakukan hingga sekitar pukul 10.00.
“Saat saya duduk di atas motor, saya pun mendengar mandornya bilang stop. Kemudian saya melihat mandornya yang berada di atas kapal itu sedang sibuk mencari sesuatu, namun apa yang dicari saya pun tidak tahu,” ceritanya.
Seketika itu pula saksi melihat korban berdiri di atas sepotong papan yang kedua ujungnya diikatkan tali dan digunakan tempat duduk korban selama mengecat lambung kapal.
Saat berdiri itulah, korban terjatuh ke laut dengan posisi kepala duluan. “Saya sempat lihat salah satu kakinya tersangkut di papan,” timpalnya.
Saat berada dalam air, korban sempat berusaha menyelamatkan diri. Bahkan, mandornya bernama Sukarman pun berusaha membuang pelampung guna menyelamatkan korban di dalam air. Tapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil, lantaran arus air pagi kemarin cukup deras, sehingga diduga korban terseret arus.
Secara terpisah, Nakhoda KM Prima Samudra Adop Anton Papuli, diwawancari mengaku tidak tahu menahu kronologis kejadian nahas tersebut.
“Saya tidak tahu secara pasti kejadiannya. Karena, saat kejadian saya berada di luar kapal (turun ke darat). Dan korban bekerja bersama mandor,” jelasnya.
Dia pun menjelaskan, KM Prima Samudra ini baru merapat di Pelabuhan Malundung pada hari Rabu (2/7) setelah berlayar 6 hari dari Singapura. “Kami muat aspal dari Singapura dan dibongkar di Tarakan. Hari kedua ini pun sudah sebagian muatannya dibongkar,” rincinya.
Sedangkan mandor (Sukarman) yang menyaksikan kejadian itu, saat diperiksa di Kantor Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KP3) juga membenarkan adanya musibah tersebut.
“Memang pekerjaan ini bukan spesifikasi yang harus dikerjakan korban. Akan tetapi, kami di kapal ini krunya pas-pasan (hanya 14 orang) jadi semua pekerjaan dikerjakan siapa saja,” jelasnya.
Dia pun mengakui kalau saat bekerja kemarin tidak menggunakan alat pengamanan. “Memang ada safety ball di kapal. Tetapi, sudah biasa dia ngecat tanpa menggunakan safety ball sehingga tadi (kemarin) juga tidak memakainya,” kata Sukarman.
Ditanya soal keterangan saksi Warna, Sukarman membenarkan kalau sekitar pukul 10.00 itu dia suruh korban stop bekerja. Kemudian, Sukarman tinggalkan korban sendiri di lambung kapal untuk mengambil tangga agar korban naik kembali ke kapal.
“Saat kejadian saya sedang ambil tangga untuk dia (korban) naik ke kapal. Tiba-tiba saya dengar, teriakan kalau korban terjatuh dan saya pun langsung membuang pelampung ke arah korban,” jelasnya.
Ditambahkannya, karena upaya penyelamatan awal tidak membuahkan hasil. Maka, pihak kapal berkoordinasi dengan KPLP, Pelni, Lanal Tarakan, KP3, dan masyarakat sekitar untuk melakukan pencarian hingga siang hari. Lagi-lagi upaya yag dilakukan kemarin belum membuahkan hasil.
WASMAN: SAYA SEMPAT MARAH
Kepala Cabang PT Pelni Tarakan, Wasman RM yang ikut langsung dalam pencarian korban kemarin saat dikonfirmasi mengaku geram dan sempat marah terhadap nakhoda KM Prima Samudra, Adop Anton Papuli.
“Saya sempat marahi nakhodanya, karena melakukan pekerjaan seperti ini, pekerjanya tidak dilengkapi safety ball. Padahal sepintas kita melihat tempat korban terjatuh sangat tidak nyaman,” kata Wasman, sambil menunjuk ke arah posisi korban jatuh ke laut.
Ditanya upaya pencarian, tegas kepala Cabang PT Pelni ini, akan dilakukan pencarian selama 3 hari. Toh kalau memang selama 3 hari tidak diketemukan apa boleh dibuat.
“Tapi berdoa mudah-mudahan korban ditemukan sebelum tiga hari,” tegasnya.
Wasman menjelaskan, KM Prima Samudra ini sandar di Pelabuhan Malundung Rabu (2/7) tujuannya membongkar aspal yang diangkut dari Singapura, kurang lebih 1.500 ton.
Ditanya waktu lamanya aktivitas bongkar muat, kata dia tergantung jumlah truk yanng dilibatkan untuk mengangkut aspal dimaksud.
“Jika semakin banyak truk yang angkut, tentunya pekerjaan pun semakin cepat selesai. Dan diperkirakan paling lama 1 minggu sudah selesai bongkar muatnya,” jelasnya.
Sementara itu, menurut rekan korban, Gatot, kejadian tersebut berawal ketika korban sedang mengecat haluan kanan badan kapal yakni mengecat nama kapal “Prima Samudra” dengan mengunakan tali. “Tadi pagi saya hanya ketemu sebentar sama dia (korban), sewaktu pergantian shift kerja,” kata Gatot.
Menurut Gatot, pada saat korban terjatuh, mengenakan baju cattle pack warna merah. Sewaktu korban sudah berada di laut sempat dilemparkan kepadanya pelampung, namun pelampung tersebut terlepas dan akhirnya korban terseret arus dan menghilang.
“Kadet ini orangnya biasa saja, tidak banyak omong dan dia juga ramah. Dia di sini sebaga AB (juru mudi) seperti saya. Yang membedakan kalau dia masih magang, dan kalau saya sudah sekitar 10 tahun berlayar,” kata Gatot.
Menurut Gatot, korban orangnya tidak suka minum-minuman alkohol, termasuk tidak suka gadangan. Jadi dugaan jatuhnya yang dikarena mabuk dan kurang tidur, dibantahnya.
TIM SAR TERUS LAKUKAN PENCARIAN
Setelah mendapat laporan adanya korban terjatuh ke laut dan tidak ditemukan tim Search And Rescue (SAR) langsung menuju lokasi kejadian. Tidak tanggung-tanggung tim ini terdiri dari empat instansi yakni 7 orang tim SAR dari Satpol PP dan Basarnas (Badan SAR Nasional), 4 orang dari Lanal, dan 4 orang dariKepolisian Pengamanan Perairan dan Pelabuhan (KP3) Tarakan. Dengan mengunakan 3 speed boad, mereka menyisiri wilayah perairan dekat pelabuhan.
Menurut Koordinator Basarnas Tarakan, Manangap, pihaknya akan terus mencari korban di daerah perairan tersebut. “Yah, kami akan terus mencarinya. Radius satu kilometer mengikuti arah arus dan lima ratus meter ke tengah laut,” ungkap Manangap.
Pencarian korban tengelam menurut Manangap, perlu kerja keras dan kesabaran. Mengingat cuaca di laut bisa saja berubah-ubah setiap saat. “Kalau korban ini meninggal, setidaknya dalam tiga hari mayatnya akan terapung. Namun bila sebelum satu jam bisa ditemukan dan badannya masih hangat bisa saja korban diselamatkan,” katanya.(noi,*/rt-3) ~RADAR TARAKAN~